7/30/2016

Aji Panurat dan Aji pamasa episode 4

Maka pada keesokan harinya Aji panurat dan adiknya membuat persiapan untuk melakukan perjalanan jauh. Mereka hendak mencari burung yg dapat berbicara seperti yg di titahkan kepada mereka, mereka membawa bekal yg cukup banyak dan mereka tidak pula lupa membawa alat pembuat api. Setelah semuanya siap mereka pun menghadap sang raja untuk meminta doa restu kepada ayahnya.





Setelah mendapat doa restu dari ayahnya berangkatlah Aji panurat beserta adiknya. Mereka mulai masuk ke dalam hutan mendaki gunung dan menuruni lurah untuk mencari burung yg dapat berbicara seperti yg dititahkan, sudah sekian lamanya dan sekian jauhnya mereka berjalan namun mereka belum juga menemukan apa yg mereka cari,  setelah sampai di tepi hutan mereka pun melihat sebuah padang rumput yg sangat luasnya, mereka pun terus berjalan hingga akhirnya menemukan jalan yg bercabang dua mereka bingung jalan mana yg harus di pilih, hari mulai sore mereka pun memutuskan untuk beristirahat kebetulan di dekat mereka ada sebuah gubuk kecil mereka pun memutuska untuk bermalam disana.

Keesokan harinya mereka kembali melanjutkan perjalanannya kembali masih di jalan yg bercabang dua mereka masih kebingungan jalan mana yg harus di pilih, dan sekilas Aji pamasa melihat sebuah tulisan yg terpampang di atas jalan masuk "hai Aji pamasa! Apa yg tertulis di atas pintu itu dan siapakah gerangan yg menulis tulisan itu, cobalah baca apa yg tercantum disitu,"
Aji pamasa pun membaca tulisan itu dengan suara agak keras, "jalan ke kanan ialah jalan utuk para hantu mambang dan peri, sedang jalan sebelah kiri ialah jalan untuk manusia."
Sebelum mereka melanjutkan perjalanan, maka berfikirlah Aji panurat dalam hatinya, "jikalau kami berjalan bersama-sama kemungkinan kami tidak akan menemukan burung itu"
Maoa ia puj berkata kepada adiknya"wahai adiku Aji pamasa! Jikalau kita selalu berjakan bersama-sama maka kecil kemungkinan kita dapat menemukan burung itu, maka dari itu aku akan mengambil jalan yg ke kiri dan engkau yg ke kanan, dan tentu saja besar kemungkinan burung itu bisa kita temukan,
Mula-mula Aji pamasa merasa keberatan atas keputusan yg dibuat kakanya, akan tetapi Aji panurat tetap bersikeras atas keputusannya maka ia seorang adik yg lebih muda usianya harus mentaati keputusan kakaknya, maka berkatalah Aji pamasa kepada kakaknya "jadi sudahkah menjadi keputusan kakak yg tidak boleh di tawar-tawar lagi untuk meninggalkan dan berpisah meninggalkanku?"
"Ya" jawab Aji panurat dengan singkat dan tegas, kemudian Aji panurat membagi dua bekal yg mereka bawa dan ia pun meneruskan perjalanannya dengan membagi 2 arah jalan yg berbeda Aji panurat ke sebelah kiri yg bertuliskan jalan untuk manusia dan sedangkan Aji pamasa mengambil jalan ke sebelah kanan yakni jalan bagi hantu, peri dan mambang,

Untuk menyingkat waktu marilah kita untuk semetara waktu meninggalkan Aji pamasa untuk mengikuti perjalanan Aji panurat yg mengambil jalan ke kiri yakni jalan yg menurut tulisan adalah diperuntukan bagi manusia
Setelah Aji panurat berjalan begitu lamanya sampailah ia ke kampung Raja tunggul di judi, pada saat itu penduduk kampung itu merasa aneh dengan kedatangan Aji panurat maka Raja tunggul di Judi pun bertanya kepada Aji panurat "wahai anak muda ada keperluan apa anda datang ke kampung kami ini?"
Aji panurat pun menyatakan magsud kedatangannya bahwa ia sedang mencari burung yg dapat berbicara dan Raja tunggul di judi pun memberi tahu kepadanya bahwa burung yg ia magsud tidak ada disni, kemudian Raja tunggul di judi pun mengajak tamunya untuk turur berjudi, Aji panurat pun menerima ajakan sang raja untuk berjudi tak lama kemudian mereka pun tenggelam di dalam lautan perjudian, mula-mula Aji panurat mujur sekali ia selalu menang sehingga habislah semua harta benda Raja tunggul di judi yg hanya tinggal istri anak dan dirinya sendiri,

Dengan hati yg sangat sedih Raja tunggul di judi pun pulang ke rumahnya dengan wajah murung penuh kekecewaan dan menceritakan semua yg telah di alami kepada keluarganya, anak perempuan yg merasa kasihan atas apa yg telah menimpa ayahnya mencoba untuk menghiburnya "Ayah! Janganlah ayahanda bersedih aku punya akal untuk mengembalikan semua harta benda ayah yg hilang itu, bahkan anak muda itu bisa menjadi budak kita, undanglah anak muda itu ke rumah kita untuk makan siang lalu ajaklah kembali ia untuk berjudi" Ayah yg kehabisan akal itu berjanji untuk menuruti kemauan anaknya.

Keesokan harinya Aji panurat di undang makan siang ke rumah Raja tunggul di judi, setelah makan siang kembali tuan rumah pun mengajak tamunya untuk berjudi lagi, Ajakan tuan rumah itu diterima ole Aji panurat dan tak lama kemudian mereka berdua kembali tenggelam di dalam lautan perjudian, sewaktu mereka sedang asyik bermain judi maka datanglah anak perempuan Raja tunggul di judi menggendong bayi yg dipinjamnya dari tetangganya, kemudian anak gadis yg cantik itu pun sengaja duduk bersimpuh di tempat yg cukup jelas dilihat oleh Aji panurat, sambil menyanyikan hurdo-hurdo untuk seolah menidurkan bayi yg di gendongnya, ia memperlihatkan sedikit buah dadanya yg menggiurkan seperti seorang ibu yg hendak menyusui anaknya,
Aju panurat pun melihat gadis itu dan sukar untuk melepas pandanganya dari gadis manis yg sedang bertingkah itu, demikian hebatnya ia tertambat oleh gadis itu yg memang dengan sengaja merusak konsentrasinya dalam bermain judi, sehingga ia lupa bahwa ia sedang berjudi, dan akhirnya Aji panurat kalah dalam perjudian habislah semua harta benda yg ia peroleh kemarin termasuk bekal yg ia bawa dari kampungnya semuanya sudah tak tersisa, kemuadian ia meminjam uang dari Raja tunggul di judi untuk kembali bermain judi dengan jamina jikalau ia kalah ia bersedia menjadi budaknya, ia berusaha menebus kekalahannya namun apa daya ia tidak dapat mengatasi gadis cantik yg licik itu,

akhirnya Aji panurat kembali kalah dan ia tidak dapat menebus hutangnya, maka ia di aniaya dan dipasung yakni tangan dan lehernya dimasukan kedalam sebuah kayu yg berlubang, sungguh malang nasibnya.

<<<<< Kembali ke episode 3
Lanjut keepisode ke 5>>>>>


0 komentar